Suku Dani, Penguasa Lembah Papua Yang Abadi

Suku Dani – Kalau Kalimantan terkenal dengan suku Dayak yang melegenda, Papua juga punya suku Dani yang tak kalah terkenal dengan sejarah dan keunikan masyarakatnya.

Berdiam di Pegunungan Tengah tepatnya Lembah Baliem Papua, suku identik dengan koteka ini masih eksis hingga saat ini dan terus mempertahankan budaya leluhur mereka.

Mau lebih dekat dengan penguasa lembah ini?

Sejarah

sejarah suku dani

Tak ada yang tahu persis sejak kapan masyarakat suku ini tinggal di Papua, namun jejak eksistensinya mulai terendus pada awal tahun 1900 silam.

Saat itu Belanda melakukan ekspedisi dan mencium adanya perkampungan manusia di lembah Baliem, namun saat itu mereka berlum berhasil menemukan bukti siapa yang menetap di sana.

Berlanjut pada tahun 1935 ekspedisi yang melibatkan penyidik asal Amerika yang salah satu anggotanya dikenal dengan nama Richard Archold berhasil bertemu dengan warna suku Dani.

Saat itu mereka dikenal karena sigap dalam bertani dilengkapi alat-alat sederhana yang dibuat sendiri, bahkan rumah-rumah merekapun sudah ditemukan.

Barulah setelah itu banyak ekspedisi mengungkap keberadaan masyarakat suku tersebut, ada yang menelusuri bukit Ersberg dan ada juga yang mencari di kawasan bukit Grasberg.

Dan fakta membuktikan selain Dani, ada juga dua suku lain yang juga menetap pada daerah yang sama, yaitu suku Yali dan Lani. Hingga saat ini mereka hidup rukun dan damai.

Menyoal kehidupan masyarakat suku Dani, mereka sangat bergantung pada alam, baik untuk membangun rumah, membuat alat rumah tangga hingga senjata untuk berperang dan bertani.

Namun tetap menjaga keseimbangannya. Jadi walaupun warganya banyak namun alam disekitarnya tetap subur dan terhindar dari eksploitasi berlebihan.

Baca Juga : Suku Bali

Tradisi Suku Dani

tradisi suku dani

Banyak tradisi yang dijalani oleh masyarakat suku ini dan sudah turun temurun dilakukan dari zaman leluhur mereka hingga sekarang.

Beberapa diantaranya adalah tradisi potong jari, membakar batu dan Kaneka Hasagir.

Ketiganya memiliki makna mendalam baik dalam hal mengingat leluhur hingga menjaga kerukunan antar sesama warga suku dan suku lainnya.

1. Potong Jari

Kehilangan orang tercinta dari keluarga inti merupakan hal paling menyedihkan bagi warga suku Dani, selain melakukan ritual rutin bagi jenazah, anggota keluarga yang ditinggalkan juga melakukan tradisi potong jari.

Memang mengerikan namun begitulah adanya, jika seorang suami kehilangan istri maka salah satu jarinya akan dipotong secara sukarela, begitu juga jika kehilangan anak atau orang tua.

Semakin banyak anggota keluarga yang meninggal maka akan semakin banyak pula seseorang kehilangan jarinya.

Tradisi ini sempat dilarang namun masih sering dilakukan oleh warga asli Dani karena menghormati ritual yang sudah dilakukan secara turun temurun.

2. Bakar Batu

Ketika ada salah satu warga suku Dani yang menikah, atau baru melahirkan maka semua warga akan menyambutnya dengan suka cita melalui tradisi bakar batu.

Tradisi ini bisa dibilang makan bersama, dimana semua bahan makanan dibakar bersama bumbu di atas dedaunan, lalu ditutup dengan batu-batu kemudian di bakar hingga matang.

Tradisi ini juga berlaku jika ada warga dari suku lain yang menikah atau melahirkan, dengan begitu sangat terlihat bagaimana suku ini menjaga kerukunan antar warga dan antar suku.

Walau dahulu sempat tersiar bahwa Dani sering berperang dengan suku tetangga, namun pada momen-momen tertentu mereka bisa kembali bersatu dan menikmati kegembiraan bersama.

3. Kaneka Hasagir

Tradisi ini adalah sebuah upacara untuk menghormati roh leluhur suku yang merupakan jiwa terhormat dan mereka puja.

Bahkan disebutkan bahwa kepercayaan asli dari suku ini adalah menyembah roh leluhur melalui acara keagamaan Kaneka Hasagir.

Roh leluhur laki-laki disebut dengan nama Suangi Ayoka sedangkan roh leluhur wanita disebut Suangi Hosile.

Baca Juga : Suku Mante

Keunikan

keunikan suku dani

Dibandingkan dengan suku lain yang ada di Indonesia, suku Dani memiliki sejumlah keunikan yang tak ada duanya.

Mulai dari mumi leluhur yang ada di depan bangunan rumah warga, perang antar suku yang rutin dilakukan setiap tahun, hingga tingkat bahasa yang membedakannya dengan suku lain walaupun saat ini kebanyakan warga sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing.

  • Mumi

Warga suku ini memang identik dengan mumi leluhur, salah satunya yang menjadi ikon hingga saat ini adalah mumi Wim Motok Mabel yang dipercaya sudah berusia 300 tahun lebih.

Mumi ini memiliki warna hitam legam dengan posisi duduk menengadah dengan mulut terbuka, dia disimpan di bangunan khusus dan biasanya diletakkan di rumah warga laki-laki.

Selain mumi leluhur, suku Dani juga melakukan ritual membuatan mumi dari para tokoh dan pemangku adat dengan cara meletakkannya di atas bara api hingga kering, lalu di jemur di bawah matahari hingga warnanya menjadi hitam kemudian disimpan.

  • Perang Antar Suku

Peperangan yang dilakukan suku ini dahulu biasa terjadi akibat salah paham antar suku, senjata yang digunakan adalah panah-panah yang terbuat dari bambu, kayu, dan tulang.

Dahulu pada ujung panah ditaburi racun agar lawan langsung tewas, tapi sekarang peperangan dilakukan rutin sekali setahun sebagai bagian dari pelestarian budaya, bukan perang sesungguhnya.

Peperangan yang biasanya diselenggarakan tiga hari ini rutin digelar setiap bukan Agustus jelang HUT RI. Selain suku Dani keterlibatan suku Yali dan Lani juga sangat maksimal.

Peperangan yang lebih sering disebut festival Lembah Baliem ini menjadi salah satu acara yang dinanti wisatawan yang ingin melihat dari dekat kehidupan suku terbesar di Papua tersebut.

  • Bahasa

Secara umum jenis bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku dani masuk dalam jenis bahasa Papua Tengah dan Melanesia.

Namun dalam penggunaannya terdapat tiga jenis bahasa yaitu bahasa Keluarga Wano yang berdomisili di wilayah Bokondini, lalu ada pula bahasa Dani Pusat dengan dua logat yaitu Lembah Besar Dugawa dan Dani Barat.

Terakhir adalah bahasa Keluarga Nggalik dan Ndash yang juga memiliki logat yang sangat khas.

Beruntung suku ini tak tertutup pada modernisasi sehingga semakin banyak warga yang sudah bisa berinteraksi dengan dunia luar menggunakan bahasa Indonesia, jadi kalau Anda melancong ke sana tak perlu khawatir karena pasti bisa berkomunikasi tanpa penerjemah.

  • Kekerabatan Komunal

Beda dengan kekerabatan di Indonesia pada umumnya yang menganut sistem keluarga yang tinggal dalam satu rumah, suku ini memiliki sistem kekerabatan komunal berdasarkan sebuah kemiripan fisik, jadi dalam satu rumah bisa ditinggali beberapa keluarga yang memiliki ciri yang sama.

Sistemnya juga terbagi atas tiga, yaitu keluarga luas yang menghuni perumahan besar dan dibatasi dengan pagar, lalu ada yang disebut paroh masyarakat yang merupakan penyatuan dari beberapa keluarga luas dan biasanya disebut Ukul Oak.

Kemudian ada kelompok berdasarkan territorial atau tempat tinggal.

Rumah Adat

rumah adat suku dani

Dalam urusan hunian suku Dani juga memiliki keunikan tersendiri, karena rumah yang dibuat sangat artistik dan memiliki nilai tinggi.

Biasanya dikenal dengan nama Honai, rumah ini terbuat dari kayu atau bambu dengan atap seperti jerami yang menutupi bagian atas rumah menyerupai jamur.

Kalau Anda pernah melihat rumah kurcaci dalam film Lord of The Ring seperti itulah rumah khas suku asli Papua ini.

Rumah adat ini merupakan tempat tinggal bagi laki-laki dari suku tersebut, dan dalam pembuatannyapun hanya boleh dilakukan oleh laki-laki pada waktu tertentu dan pintu masuknya harus menghadap Barat atau Timur sesuai rotasi matahari.

Alasannya adalah agar lebih waspada jika ada bencana atau musuh yang datang.

Selain Honai adapula rumah yang disebuat Ebe’ai yang merupakan rumah bagi para wanita suku Dani.

Bentuknya agak persegi ketimbang Honai dan letaknya akan disesuaikan dengan lokasi Honai milik laki-laki pasangan wanita tersebut.

Biasanya yang boleh masuk ke dalam rumah dengan tinggi atapnya hanya satu meter ini hanyalah suami dan anak laki-laki keluarga tersebut.

Baca Juga : Suku Madura

Pakaian Adat

pakaian adat suku dani

Walaupun sudah terkontaminasi dengan budaya modern, masyarakat asli suku ini masih mempertahankan penggunaan pakaian adat untuk acara-acara tertentu, baik itu pakaian wanita maupun pria yang punya makna dan fungsinya masing-masing.

Bahkan masih terdapat warga yang menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari.

Pakaian pria dari suku Dani diberi nama Holim yang terbuat dari jerami yang dililitkan pada pinggang menggunakan tali untuk menutupi organ vital mereka.

Ada juga yang dinamakan koteka, dibuat dari labu air yang dikeringkan dan dikeluarkan isinya kemudian dijadikan penutup organ vital pria.

Ada beberapa jenis koteka yang dipakai oleh pria suku ini berdasarkan posisinya dalam silsilah adat suku.

Pakaian adat wanita di suku yang terkenal dengan kemampuan bertaninya ini ada dua, pertama dinamakan Sali yaitu penutup tubuh berwarna coklat dan terbuat dari kulit kayu atau daun dari sagu yang sudah dikeringkan, cara pakainya dengan melilitkannya di pinggang menggunakan tali khusus.

Pakaian ini hanya boleh dikenakan oleh wanita yang belum menikah.

Kedua adalah Yokal yang merupakan pakaian untuk wanita suku Dani yang sudah menikah dengan beberapa piliha warna terang yan dibuat dari kulit pepohonan.

Pakaian ini dibuat menjadi anyaman yang akan menutupi bagian pinggang hingga pinggul wanita tersebut.

Untuk aksesorisnya ada yang dinamakan Noken atau tas rajut yang terbuat dari kulit kayu dan dianyam, penggunaannya adalah untuk membawa hasil panen umbi dan sayur.

Noken biasanya diletakkan di kepala dengan cara digantung agar tidak terasa beban berat yang ada di dalamnya.

Selain itu ada juga gigi hewan yang dijadikan kalung oleh warga suku ini, ada yang dibuat dari gigi anjing ataupun babi.

Makanan Khas

makanan khas suku dani

Masyarakat suku Dani sangat familiar dengan sagu, sehingga makanan yang biasa mereka konsumsi kebanyakan berbahan dasar sagu.

Salah satu yang paling terkenal adalah Papeda yang merupakan makanan dari pati sagu yang diberi air panas dan dimakan selagi hangat, rasanya hambar namun biasanya dipadukan dengan berbagai jenis lauk lainnya oleh warga setempat.

Selain Papeda ada juga sate ulat sagu, berbahan dasar ulat yang ada pada pohon sagu yang meudian diolah menjadi sate dengan cara di bakar.

Bagi warga asli Papua makanan ini sangat familiar dan masih sering dijadikan cemilan begit juga oleh warga suku Dani, apalagi di Lembah Baliem sangat banyak ditemukan ulat ini.

Informasi seputar masyarakat suku Dani di Papua di atas, sangat menakjubkan bukan?

Anda jadi tahu sejarah mereka di bumi pertiwi, bagaimana mereka hidup dan menjaga alam hingga keunikan menjadi pembeda suku ini dari suku lain di Papua ataupun Indonesia.

Kalau Anda berkesempatan ke Bumi Cenderawasih cobalah berkenalan langsung dan rasakan sensasi berada di lingkungan suku hebat ini.

Hallo ! Belajar Terus dan memberikan manfaat bagi orang lain. Seorang pemuda yang hobi menulis tentang pengetahuan.