Uniknya Suku Mentawai di Pulau Sumatera Kepulauan Mentawai

Suku Mentawai – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keunikan khususnya asal usul masyarakatnya yang beragam.

Ada berbagai macam ras, suku, agama, budaya yang tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke.

Salah satu suku yang memiliki keunikan dan patut untuk Anda ketahui adalah suku Mentawai .

Suku ini berada di wilayah Sumatera Utara atau lebih tepatnya di kepulauan Mentawai.

Keberadaan suku Mentawai menunjukkan bahwa Indonesia memang menjadi surganya ragam budaya tetapi tetap mencerminkan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Salah satu keunikan yang dimiliki oleh orang-orang dari suku ini adalah kebiasaan budaya tato seluruh tubuh sebagai warisan dari leluhur zaman dahulu.

Apa sajakah hal menarik dari suku ini? Yuk simak penjelasan berikut!

Asal Muasal Suku Mentawai

sejarah suku mentawai

Mentawai adalah bagian dari pulau Sumatera atau lebih tepatnya bagian kepulauan.

Kepulauan ini terdiri dari 70 kepulauan kecil dengan pulau utama yakni Sipora, Siberut, Pagai utara dan Pagai selatan.

Penduduk yang mendiami pulau ini terdiri dari beberapa suku, sedangkan suku Mentawai asli sebagian besar mendiami daerah Siberut.

Nenek moyang suku asli Mentawai dipercaya sudah mendiami kepulauan tersebut sejak 2000 hingga 500 tahun sebelum masehi, sehingga masyarakat Mentawai yakin bahwa mereka ada sebelum penjajah tiba.

Namun ketika Belanda mulai menguasai dan menjajah Indonesia, terjadilah hejolak antara pribumi dan penjajah khususnya dalam hal klaim kepulauan Mentawai.

Belanda terus mengajukan klaim atas kepulauan Mentawai sebagai bagian dari Hindia Timur.

Namun negosiasi yang dilakukan oleh tetua adat suku leluhur Mentawai membuahkan hasil yang meenyenangkan yakni dibebaskannya masyarakat Mentawai untuk hidup dengan cara dan adat istiadat mereka tanpa ada campur tangan dari Belanda.

Kuatnya adat-istiadat masyarakat Mentawai juga ditunjukkan saat mulai hadirnya para misionaris yang memiliki banyak tujuan mulai dari berdagang hingga menyebarkan ajaran agama.

Namun masyarakat Mentawai selalu menolak kedatangan misionaris yang dianggap akan mempengaruhi adat Mentawai yang sudah ada.

Kemudian saat penjajah Jepang tiba, mulainya para dukun atau kerei dipaksa untuk kerja.

Jepang memberikan banyak tekanan kepada masyarakat adat Mentawai hingga ancaman penyiksaan dan pembunuhan.

Setelah Indonesia bisa mengambil kemerdekaannya, pemmerintah mulai membuat aturan baru untuk setiap suku termasuk Mentawai.

Adanya aturan yang dibuat pemerintah bertujuan unttuk mempersatukan semua suku di Indonesia atas nama bangsa Indonesia.

Sehingga masyarakat adat Mentawai juga harus melakukan adaptasi budaya guna mencapai tujuan dan falsafah hidup bangsa Indonesia swngan berpegang pada Pancasila.

Adanya banyak faktor mulai dari aturan pemerintah dan sejarah di masa lampau, membuat budaya Mentawai mengalami pergeseran bahkan ada beberapa wilayah yang sudah tidak menjalankan adat istiadat yang ada.

Akan tetapi, dikarenakan adat istiadat suku asli Mentawai juga sangat kuat, masih ada kebudayaan yang tetap dipertahankan di tengah-tengah modernisasi yang terjadi saat ini.

Wilayah Siberut yang menjadi wilayah terluas dari kepulauan Mentawai masih dihuni oleh suku asli Mentawai yang mempertahankan kebudayaan peninggalan dari nenek moyang mereka.

Baca Juga : Suku Mante

Bahasa suku Mentawai Sehari-hari

sejarah suku mentawai

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh suatu masyarakat di daerah tertentu berdasarkan kesepakatan bersama.

Dikarenakan Indonesia memiliki banyak suku yang berbeda-beda, maka tidak heran jika bahasa yang digunakan juga berbeda.

Setiap bahasa dari suatu suku juga memiliki keunikan dan asal muasalnya sendiri, tidak terkecuali bahasa daei suku Mentawai.

Bahasa yang digunakan oleh suku Mentawai disebut dengan bahasa Mentawai.

Bahasa Mentawai ini berasal dari rumpun bahasa Austronesia yang diturunkan ke bahasa Melayu-Polinesia, Melayu- Polinesia inti, Sumatra Barat laut hingga berakhir pada bahasa Mentawai ini.

Perkembangan bahasa ini disebabkan oleh banyak hal seperti jalur perdagangan, penyebaran agama hingga pergeseran zaman.

Suku Mentawai menggunakan bahasa daerah mereka dalam percakapan sehari-hari. Ada sekitar 65.000 jiwa yang masih aktif menggunakan bahasa Mentawai hingga saat ini.

Meskipun bahasa daerah mereka hanya 1 yakni bahasa Mentawai, namun dibagi dalam 3 dialek. Pengelompokkan dialek ini berdasarkan wilayah penutur yaitu:

1. Siberut Selatan

Penutur suku Mentawai yang menggunakan dialek ini berada di wilayah desa Maileppet, Siberut Selatan.

Pengguna dialek ini hanya melingkupi bagian kecamatan Siberut Selatan khususnya desa Maileppet dan sekitarnya saja.

Wilayah ini termasuk dalam wilayah yang cukup sempit sehingga tidak heran jika dialek Siberut Selatan hanya memiliki penutur yang sedikit.

2. Siberut Utara

Penutur dialek Siberut utara berada di wilayah desa Monganpoula, Siberut Utara.

Lingkup penutur dialek ini bisa dikatakan cukup sedikit karena hanya melingkupi area Monganpoula saja.

Desa tersebut wilayahnya juga cukup sempit.

3. Sipora Pagai

Penutur dialek Sipora pagai berada di wilayah desa Sioban, Sipora dan desa Makalo, Pagai selatan.

Dialek ini menjadi bahasa yang paling banyak digunakan oleh orang Mentawai karena wilayahnya yang lebih luas dari 2 dialek lainnya.

Baca Juga : Suku Madura

Kebudayaan Suku Mentawai yang Unik

Keunikan sebuah suku tidak terlepaa dari ragam budaya yang dimilikinya.

Suku Mentawai juga tidak mau kalah dengan suku lain yang ada di Indonesia dalam hal warisan budaya yang unik dan menarik.

Jika Anda mengenal seni tato tubuh di era sekarang, suku yang mendiami pulau Mentawai ini sudah lebih mengenal dulu tentang seni tato. Selain itu, apa saja keunikan lain yang dimiliki? Yuk simak !

1. Seni tato tubuh Mentawai

kebudayaan suku mentawai

Tato atau seni lukis tubuh sudah banyak dikenal apalagi di zaman milenial seperti sekarang ini.

Tidak hanya tato permanen, Anda bisa membuat tato tubuh yang bisa dihapus kapan saja sehingga tidak perlu takut untuk membuat tato dengan berbagai gambar.

Sama halnya dengan suku Mentawai, tato menjadi hal wajib yang harus dilakukan oleh kaum lelaki maupun perempuan.

Bagi masyarakat Mentawai, tato dianggap sebagai busana terbaik sehingga mereka tidak ragu untuk membuat tato di seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Kegiatan ini sudah menjadi tradisi adat turun temurun dari para leluhur. Tidak hanya sebagai tradisi, tato digunakan sebagai tingkatan status sosial dan menunjukkan jati diri suku tersebut.

Budaya tato tubuh masih dilakukan oleh suku Mentawai hingga sekarang, namun tidak semua masyarakat melakukannya.

Hanya wilayah pulau Siberut saja yang masih melakukan tradisi adat ini. Hal ini dikarenakan adanya larangan dari pemerintah melalui surat keputusan presiden Soekarno tahun 1954.

2. Gigi runcing tanda kecantikan paripurna

kebudayaan suku mentawai

Jika definisi cantik menurut sebagian orang adalah memiliki kulit yang bersih, gigi rapi, rambut luris berkilau beda halnya dengan sisi cantik yang ditunjukkan suku Mentawai.

Masyarakat adat percaya bahwa perempuan yang cantik paripurna adalah perempuan dengan gigi yang runcing.

Mengapa bisa demikian? Apakah meruncingkan gigi wajib bagi kaum perempuan Mentawai?

Simbol kecantikan suku ini diukur dari seberapa runcing gigi yang dimiliki oleh seorang wanita.

Biasanya ketika memasuki usia remaja, para perempuan Mentawai akan mengkikir giginya sampai runcing.

Gigi runcing ini bermakna sebagai simbol penyelaras jiwa dan roh mahkluk sehingga akan terhindar dari marabahaya.

Seiring berjalannya waktu, budaya unik ini sudah mulai ditinggalkan akibat budaya luar yang mulai masuk ke daerah Mentawai.

Selain itu, perkembangan teknologi dan pengetahuan yang semakin maju juga mempengaruhi pola pikir masyarakat Mentawai khususnya lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan gigi.

3. Tradisi Pernikahan suku Mentawai

Bukan hanya tato dan gigi runcing saja yang membuat suku Mentawai memiliki budaya unik, tetapi tradiai pernikahannya pun juga tergolong unik.

Masyarakat Mentawai masih menganut sistem perjodohan.

Kegiatan ini dilangsungkan dengan melihat status sosial satu uma dengan uma lain.

Jika suami meninggal, maka pihak perempuan akan kembali ke uma asalnya.

Pernikahan adat di masyarakat Mentawai akan dibuat semeriah mungkin dengan rangkaian pesta yang cukup banyak dan rumit.

Ada berbagai ritual yang biasanya dilakuķan oleh pihak mempelai, keluarga mempelai hingga sanak saudara teedekat.

Setiap tradisi yang ada harus dijalankan agar pernikahan bisa langgeng dan memberikan keberkahan bagi keluarga.

Baca Juga : Suku Dayak

Rumah Adat Tradisional Suku Mentawai

rumah adat suku mentawai

Keunikan yang dimiliki suku Mentawai juga bisa Anda lihat dari rummah tradisional suku tersebut.

Rumah adat tradisional Mentawai disebut dengan rumah panjang uma.

Rumah tradisional ini disebut panjang uma karena panjang rumahnya mencapai 30 meter dan lebarnya 10 meter serta tinggi rumah mencapai 7 meter atau lebih.

Rumah panjang uma dihuni oleh keluarga besar mulai dari 5 keluarga hingga 10 keluarga. Dikarenakan rumah adat ini termasuk rumah yang besar, maka dibagi menjadi 3 bagian yang memiliki fungsi masing-masing yakni:

1. Uma

Uma merupakan bagian inti rumah yang paling besar.

Fungsi dari bagian ini adalah rumah utama yang dihuni oleh keluarga dari pihak ayah.

Jika ada acara keluarga atau pesta, pasti menggunakan bagian uma dari rumah adat suku Mentawai ini.

2. Rusuk

Rusuk menjadi salah satu bagian rumah panjang uma yang difungsikan untuk pondok atau penginapan khusu anak muda dan janda yang terusir.

Ukurannya cukup sempit tetapi masih memadai dan layak.

3. Lalep

Bagian samping dari rumah utama atau uma disebut dengan lalep. Bagian ini difungsikan untuk pasangan yang belum resmi menikah.

Tujuannya untuk lebih mendekatkan dan mengenal satu sama lain sebelum menuju ke pernikahan yang sakral.

Sistem Kepercayaan Suku Mentawai

suku mentawai

Sistem keepercayaan yang dianut oleh suku Mentawai adalah aliran animisme yaitu kepercayaan kepada roh.

Suku ini memiliki pemimpin kepercayaan atau dukun(kerei) yang bertugas dalam mengiring jalannya upacara adat keagamaan dalam berbagai acara.

Ada beberapa upacara adat yang dilaksanakan, salah satunya adalah sabulungan. Upacara sabulungan ditujukan untuk menyembah beberapa roh yakni:

  1. Taikbagakoat yakni roh pelindung binatang laut
  2. Taikabaga yakni roh penjaga tanah
  3. Taikamanua yakni roh yang ada di langit
  4. Taikaleleu yakni roh pelindung binatang darat
  5. Taikapolak yakni roh yang hidup di bumi

Baca Juga : Suku Dani

Informasi seputar suku Mentawai mulai dari asal muasal, bahasa hingga keunikan yang ada diharapkan mampu memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca termasuk Anda.

Informasi diatas adalah sebagian kecil dari pengetahuan mengenai suku asli Mentawai yang saat ini mulai meninggalkan budayanya. Pernahkah Anda berkunjung ke wilayah kepulauan Mentawai ini?

Hallo ! Belajar Terus dan memberikan manfaat bagi orang lain. Seorang pemuda yang hobi menulis tentang pengetahuan.