Mengenal Suku Sasak, Sejarah Hingga Karakter Menariknya

Suku Sasak – Indonesia terdiri dari berbagi daerah dengan suku yang memiliki karakter masing-masing. Salah satunya adalah suku sasak yang terdapat di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat.

Banyak yang terkesima dengan pesona suku satu ini. Wajar jika banyak yang mencoba menggali seperti apa sejarah, hingga apa saja hal unik yang terdapat pada suku yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu ini.

Sejarah

sejarah suku sasak

Menilik sejarah eksistensi dari suku yang menggunakan bahasa Sasak untuk komunikasi sehari-hari ini, ternyata bermula dari penamaan.

Asal kata Sasak adalah sak-sak yang artinya satu. Sedangkan secara etimologi disebutkan bahwa kata Sasak berasal dari bahasa Jawa “sah” yang artinya pergi serta kata “shaka” dengan arti leluhur.

Jadi sering diartikan sebagai “pergi ke tanah leluhur”.

Sedangkan jika dikaji dari bukti sejarah lainnya seperti prasasti, nama suku Sasak pertama ditemukan pada prasasti bernama Pujungan di Kabupaten Tabanan Provinsi Bali pada abad ke-11.

Kemudian ditemukan juga di dalam sebuah kitab bernama Negara Kertagama yang mengungkapkan bahwa suku ini menyatu dengan Pulau Pombong dengan istila Lombok Sasah Mirah Adhi”.

Suku Sasak merupakan suku terbesar di Nusa Tenggara Barat, saat ini bermukim di berbagai daerah di Lombok dengan jumlah berkisar 68 persen dari total warga Lombok.

Salah satunya ada di Desa Senaru Lombok Utara yang masuk dalam perlindungan Taman Nasional Gunung Rinjani. Di kawasan ini terdapat suku Sasak yang jumlahnya mencapai sekitar 20 kepala keluarga.

Tradisi

tradisi suku sasak

Sama halnya dengan suku lain yang punya tradisi tertentu, Sasak juga memiliki sejumlah tradisi yang sangat unik dan jarang ditemukan di daerah lain.

Mulai dari usia wanita dan pria yang boleh menikah, tradisi pernikahan, hingga tradisi tenun.

1. Usia Menikah

Menikah muda masih diabut oleh suku Sasak hingga saat ini, perempuan diperbolehkan berumah tangga pada usia 14 tahun, sedangkan pria pada usia 19 tahun.

Tentunya mereka baru bisa disetujui untuk membina hubungan suami istri jika sudah memenuhi persyarakat adat yang sudah dterapkan secara turun temurun.

2. Tradisi Pernikahan

Kalau biasanya dalam proses menjelang pernikahan ada yang dinamakan prosesi lamaran, suku Sasak memiliki hal berbeda.

Dimana salah satu prosesi menjelang pernikahan adalah diculiknya calon mempelai wanita oleh kerabat calon mempelai pria yang disebut rombongan nyelabar.

Si wanita akan disembunyikan di rumah salah satu kerabat pria selama tiga hari.

Penculikan ini tidak boleh diketahui oleh orang tua dan keluarga wanita, mereka baru akan diberi kabar sehari setelah penculikan, dimana nyelabar akan mendatangi rumah wanita dan memberitahu bahwa anak mereka sudah diculik untuk dinikahkan.

Selain prosesi merarik atau biasa juga disebut pelarian, ada juga prosesi pihak calon mempelai pria meminta izin pada orang tua wanita yang biasa disebut redaq.

Namun tradisi ini sudah langka karena membutuhkan biaya besar dalam merealisasikannya. Saat ini warga suku Sasak lebih banyak menggunakan tradisi perarik karena dinilai lebih mudah dilakukan.

3. Tradisi Tenun

Wanita dari suku ini diwajibkan untuk bisa menenun, sejak usia 10 tahun anak wanita akan diajarkan oleh ibunya untuk menenun.

Biasanya mereka akan melakukannya di kawasan depan dari rumah mereka dan memakai dipan sebagai tempat menenun.

Wanita yang belum mahir menenun tidak diperbolehkan untuk menikah, karena dinilai belum mampu berumah tangga.

Baca Juga : Suku Mante

Keunikan Rumah Adat

keunikan rumah adat suku sasak

Selain keunikan dari berbagai tradisi yang dianut suku Sasak, rumah adat dari suku ini juga terbilang unik, karena memiliki ciri khas yang menakjubkan, boleh dibilang sedikit mirip rumah tradisional di Jawa Tengah. Seperti apa rumah yang sering disebut dengan bale itu?

  • Macam Bale

Rumah yang disebut Bale oleh orang suku ini memiliki tiga macam yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Ada yang namanya Bale Kodong yang biasanya dihuni oleh pasangan pengantin baru atau pasangan tua yang tidak lagi tinggal bersama anak-anak mereka.

Ada pula yang diberi nama Bale Bonter yaitu hunian bagi para pejabat dari suku tersebut yang biasanya terletak di desa-desa yang mayoritas penduduknya adalah suku Sasak.

Dan ketiga namanya adalah Bale Tani yang merupakan tempat menetap bagi keluarga yang sudah memiliki anak.

  • Fungsi Ruangan

Pada bale yang biasa digunakan keluarga atau Bale Tani, terdapat dua bagian ruangan.

Pertama ruangn bagian dalam yang difungsikan untuk segala aktivitas penghuni wanita dan juga sebagian menjadi dapur.

Sedangkan bagian luar difungsikan sebagai ruang tamu dan ruang aaktivitas anggota keluarga lainnya.

  • Bale Panen Padi

Selain bale yang berfungsi sebagai hunian, adapula bale yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian terutama padi.

Pada bagian atapnya dipakai ijuk sehinga terlihat sangat unik tapi tentunya sangat tahan hujan dan panas.

Sedangkan pada bagian tanah diberi campuran tanah liat dan sekam sehingga terlihat keras dan kokoh seperti semen.

Salah satu trik untuk menjaga bale agar tahan lama dan tidak diserang serangga adalah dengan dipel menggunakan kotoran sapi.

Masyarakat suku Sasak percaya bahwa hal itu akan mampu membebaskan rumah dari kekuatan jahat yang mungkin saja disebarkan oleh orang lain dengan berbagai alasan.

  • Jenis Pintu

Pintu pada bale masyarakat Sasak dibuat lebih pendek dari ukuran pintu normal sebuah bangunan.

Hal ini karena mengikuti filosofi menghargai pemilik rumah.

karena siapa saja yang mengunjungi rumah tersebut harus menunduk saat masuk ke dalam yang melambangkan rasa menghormati.

  • Rumah Berdampingan

Warga suku Sasak terbiasa hidup berdampingan dan saling tolong-menolong, terlihat jelas dari bangunan rumah yang dibuat berdampingan.

Untuk akses jalan dibuat jalan setapak disisi rumah yang menghubungkan dengan rumah dan bangunan lain.

  • Tahan Gempa

Dari penelitian yang dilakukan beberapa pihak ditemukan bahwa rumh adat dari warga suku ini tahan terhadap gempa.

Terbukti saat gempa berkekuatan 7 SR rumah warga tak mengalami keretkan apalagi hancur.

Hal ini karena bahan yang digunakan termasuk kategori kuat. Mulai dari dinding yang terbuat dari bambu yang dianyam.

Ditambah lagi bagian lantai yang merupakan campuran tanah liat da kotoran kerbau serta abu dari jerami.

Hasilnya, lantai terlihat keras dan kokoh bahkan lebih kokoh dari semen asli.

Pada bagian-bagian rumah yang terbiat dari kayu, warga biasanya menyambung dengan memakai paku yang terbuat dari bambu.

Agama Dan Keyakinan

agama dan keyakinan suku sasak

Bicara soal agama dan keyakinan, di suku Sasak terdapat keyakinan animism, dimana ada tiga bagian utama dari msyakarat dengan keyakinan yang berbeda, yaitu bagian kepercayaan Boda, Islam, dan Wetu Telu.

Boda adalah kepercayaan dari masyarakat asli suku ini, biasanya juga disebut dengan Sasak Boda.

Penganutnya menyembah roh leluhur, namun tidak ada kaitannya dengan agama Budha walaupun pelafalan Boda mirip dengan Buddhisme.

Penganut kepercayaan ini hanya menyembah roh bukan tokoh agama seperti Budha yaitu Sidharta Gautama

Kemudian ada kepercayaan Wetu Telu yang bertumpu kepada kehidupan yang dinamis, jika dilihat sepintas kepercayaan ini mirip dengan Hindu yang ada di pulau Dewata Bali, hanya saja dalam pelaksanaannya agak berbeda, mulai dari cara berpakaian ibadah hingga cara beribadah dan nama-nama ibadah yang dilaksanakan.

Dan ada agama Islam yang dianut dengan taat, keyakinan mereka kepada Islam juga diwujudkan dengan melakukan kunjungan dan memberikan doa kepada para leluhur yang telah memperkenalkan Islam kepada mereka.

Untuk melaksanakan ibadahnya, umat Islam suku Sasak melaksanakannya di dalam Masjid yang dibuat menyerupai Bale namun dengan atap yang lebih khas.

Baca Juga : Suku Tengger

Pakaian Adat

Dalam berpakaian, masyarakat Sasak di kawasan Lombok memiliki ciri khas tersendiri.

Secara garis besar pakaian dibagi atas dua yaitu khusus bagi perempuan yang biasa disebut Lambung, dan untuk laki-laki disebut Pegon.

Biasanya pakaian ini akan dikenakan pada acara adat yang dinamakan Mendakin atau bisa juga saat acara Nyongkol.

  • Pakaian Wanita

pakaian adat suku sasak wanita

Ada enam poin penting pada pakaian Lambung yang dikenakan oleh wanita suku Sasak.

Ada yang dinamakan Pangkak yaitu mahkota berbalut emas dan bentuknya seperti bunga cempaka serta bunga mawar, letaknya adalah di bagian sanggul atau konde wanita.

Kemudian adalagi yang namanya Tangkong yaitu baju yang biasanya dibuay dari bahan beludru.

Adalagi Tongkak yang berupa kain sabuk yang dipasang dengan cara dililit di bagian pinggang dan bagian ujungnya berada pada sisi kiri pakaian.

Lalu ada Lempot yaitu kain jenis tenun khas Lombok yang diselempangkan pada bagian pundak.

Kemudian Kereng yang juga merupkan kain tenun yang menjadi rok hingga mata kaki. Pelengkapnya adalah aksesoris seperti rantai, kalung.

  • Pakaian Pria

pakaian adat suku sasak pria

Pada pakaian pria suku Sasak ada yang disebut Sapuk yang merupakan mahkota dan diletakkan pada bagian kepala.

Lalu Pegon yaitu pakaian adat yang mirip jas berwarna hitam seperti pakaian adat Jawa Tengah.

Kemudian ada Dodot atau songket yang berfungsi sebagai tempat keris diselipkan, dan biasanya dililit pada area pinggang.

Lalu ada Kain Wiro yang menjadi penutup bagain bawah hingga mata kaki, dan ada Selendang yang disebut Umbak yaitu selendang yang dipakai oleh pemuka adat pada berbagai acara khusus masyarakat tersebut.

Biasanya untuk kain ini dipilih yang berwarna hitam atau merah dan panjangnya hingga empat meter.

  • Aksesoris

acsesoris suku sasak

Setiap aksesoris yang digunakan wanita dan pria dari masyarakat Sasak memiliki filosofinya masing-masing.

Pada pakaian wanita, Pangkak yang kini sudah berganti dengan jilbab memiliki filosofi kesucian wanita, Tangkong menjadi lambang dari sebuah keagungan wanuta, Tongkak merupakan lambang taat kepada tuhan, orang tua, suami dan masyarakat.

Sedangkan Lempot merupakan lambang dari kasih sayang antara sesama manusia, dan Kereng merupakan lambang dari subur dan sopan.

Soal aksesoris, semakin mahal aksesoris yang digunakan seorang wanita suku Sasak menandakan dia berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi dari yang lain.

Pada pakaian pria, Sapuk melambangkan rasa hormat pada tuhan, kemudian Pegon melambangkan keagungan pria dan sopannya dia dalam berperilaku.

Baca Juga : Suku Batak

Dodot memiliki makna karya dan pengabdian untuk orang tua dan juga masyarakat. Wiro merupakan lambang dari rendah hati yang wajib jadi bagian dari karakter warga Sasak.

Semua yang berkaitan dengan suku Sasak memang kaya akan budaya dan filosofi yng wajib untuk dijaga dan dilestarikan.

Kalau Anda sedang berada di Lombok, cobalah sempatkan waktu untuk melihat langsung bagaimana keistimewaan dari warga suku terbesar di Nusa Tenggara Barat tersebut.

Hallo ! Belajar Terus dan memberikan manfaat bagi orang lain. Seorang pemuda yang hobi menulis tentang pengetahuan.